Pekerja IT sebagai Outsource

September 03, 2010

Reading time ~5 minutes

Salah satu protes yang diadakan di San FransciscoSalah satu protes yang diadakan di San Franscisco

Ketika teknologi melaju dengan sangat pesat dan cepat, perubahan akan software dan hardware kerap berubah dengan cepat, sehingga banyak software yang mampu membantu kita untuk menyelesaikan berbagai macam jenis tugas yang dengan lebih cepat dan efisien yang di dukung dengan hardware yang ada disaat teknologi tersebut muncul. Sayang nya hal ini membuat banyak perusahaan tidak mampu men cater semua kebutuhan akan hal ini, sehingga mereka membutuhkan banyak spesialisasi di Bidang IT yang perlu mereka investasikan di perusahaan mereka.

Menginvestasikan pekerja IT mungkin akan menjadi dilema bagi banyak perusahaan, karena segmentasi skill yang diperlukan untuk IT masih sangat meluas, untuk kelas programmer saja sudah ada banyak jenis programmer dengan spesial skill set masing masing, belum lagi network, belum lagi Sistem Operasi. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan menginginkan pekerja IT dengan multi level skill set dan meng outsource kan sisa nya untuk mengerjakan hal spesifik lainya yang berhubungan dengan IT pada perusahaan tersebut.

Outsourcing

Selain alasan diatas, ada banyak alasan kenapa sebuah perusahaan lebih ingin menggunakan sistem outsourcing, tentu saja dengan outsourcing setidaknya mereka dapat:

  • Hemat biaya, tentu saja, dengan demikian mereka tidak perlu membayar sistem lembur, atau menggunakan benefit yang sama seperti yang ada pada perusahaan tersebut.
  • Fokus pada bisnis, hal ini tentu akan menunjang mereka untuk tetap fokus pada bidang bisnis masing masing.
  • Kontrak, mereka dapat menggunakan kontrak terhadap pemilik perusahaan outsourcing dan meminta pinalti jika melanggar kontrak.
  • Restrukturisasi biaya, dengan demikian menyebabkan biaya lebih dapat di prediksi dan di restrukturisasi.
  • Pengurangan Pajak, dengan adanya outsourcing dapat mengurangi mekanisme pajak

Outsourcing adalah sebuah perusahaan badan / lembaga yang melakukan aktifitas jasa perekrutan tenaga kerja, biasanya berbentuk yayasan namun sekarang sudah banyak dalam bentuk perusahaan. Lembaga outsourching ini bekerjasama dan melakukan kontrak kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.  Mengenai batasan kerja sangat beragam, ada yang hanya sebatas merekrut, kemudian diserahkan kepada perusahaan setelah si tenaga kerja tersebut layak diterima bekerja di perusahaan tersebut, hal ini tentu saja baik dan bermanfaat. Namun, ada juga yang justru tenaga kerja tersebut tidak memiliki ikatan kontrak apapun dengan perusahaan yang mempekerjakannya, ia hanya memilki kontrak dengan yayasan / badan outsourchingnya, hal ini yang banyak terjadi dan ini agak tragis.

Outsourcing dan IT

Hal ini mungkin jadi menyakitkan bagi para pekerja IT yang outsource ke perusahaan lain, yang lebih menyakitkan lagi, ketika kita di outsourcing dan di outsourcing lagi, (multi-level outsourcing). Tidak sedikit kejadian ini terjadi, sehingga kebanyakan para pekerja outsource harus menghadapi beban di dalam perusahaan dimana mereka bekerja, beban lingkungan khusus nya, mereka bekerja dalam sebuah perusahaan namun merasa asing di perusahaan tersebut karena mereka bukan bagian dari perusahaan tersebut.

Outsourcing yang nakal

Solusi ini semakin digemari oleh banyak perusahaan, sehingga akibatnya banyak muncul perusahaan perusahaan yang hanya mengumpulkan pekerja IT dan meng outsource nya ke perusahaan perusahaan lain. Sehingga dengan demikian kita mungkin dapat merasakan kalau zaman sudah berubah dengan drastis, kasarnya kita di bayar untuk bekerja di tempat lain, namun tidak berhak mendapatkan benefit yang ada pada perusahaan yang meng outsource kita. Apakah kita berhak mendapatkan benefit tersebut ?

Dari sisi proses kerja secara umum, dapat kita fikirkan, kalau kita bekerja pada sebuah perusahaan maka sudah sepantasnya kita mendapatkan dan memanfaatkan fasilitas yang ada dari perusahaan tersebut ?

Selain itu, ada kalanya juga kita bekerja pada sebuah perusahaan outsourcing berstatus kontrak, yang artinya, mungkin mereka akan memperkerjakan kita sebatas kontrak kerja perusahaan yang memerlukan outsource dan penyedia outsource saja ?

Kritik tentang Outsourcing

Baru baru ini di Virginia AS, banyak para pekerja IT yang mulai memprotes soal outsourcing ini, sekitar 600 orang pekerja akan di outsource untuk meningkatkan efisiensi. Hal ini mencetuskan demonstrasi yang diadakan di negara Capitol di Charleston, sayang nya sekelompok pekerja IT gagal bertemu dengan gubernur negara bagian. Mereka akhirnya mengajukan gugatan ke makhamah untuk menanyakan apa manfaat outsourcing bagi mereka. Mereka juga lebih menginginkan mekanisme kontrak yang lebih manusiawi ketimbang menggunakan metode outsourcing.

Untuk negara sekelas Amerika Serikat hal ini tentu saja akan memiliki efek pada rakyatnya, karena para perusahaan-perusahaan dapat dengan bebas meng outsource pekerja IT yang lebih murah, tentu saja pekerja yang berasal dari India atau Asia, akibatnya banyak pekerja lokal di US merasa terancam dengan keberadaan situasi ini.

Menilik masalah dilema outsourcing bagi para pekerja IT ini, hal ini juga terjadi di Indonesia, banyak perusahaan perusahaan yang hanya khusus “mengumpulkan” pekerja IT dan menyewakanya ke perusahaan lain.

Apa yang harus pekerja IT lakukan ?

Tidak banyak, yang terpenting mereka harus terus mengkombinasikan berbagai macam skill yang mereka miliki untuk bersaing di dunia IT, selain itu juga meningkatkan skill menulis dan softskill khusus nya bahasa akan lebih baik jika ingin dapat di terima pada sebuah perusahaan, menjadi lebih proffesional dengan skill set dan kemampuan sosial yang tinggi dapat membantu pekerja IT untuk dapat memasuki perusahaan tampa outsourcing. Bagi pekerja yang baru terjun di dunia IT sebaiknya perhatikan dulu perusahaanya bagaimana, fokus di bidang apa, kalau perusahaan tersebut terfokus hanya pada outsourcing, sebaiknya hindari atau memilih untuk tidak bergabung dengan perusahaan seperti ini dan cari opsi lain yang lebih baik (kecuali kalau anda tidak ada pilihan sama sekali), karena perusahaan ini tidak banyak memberi manfaat kepada kita, malah kebanyakan menjadi parasit, mungkin kita di bayar 5 juta per bulan oleh pengguna outsourcing, namun perusahaan kita hanya menggaji kita 2 juta ?

Outsourcing perlu di regulasi

Tentu saja, outsourcing adalah mekanisme bisnis yang tidak dapat dihindari, karena para pemilik bisnis akan selalu mencari cara termurah untuk menurunkan biaya operasional perusahaan mereka, namun setidaknya pemerintah dapat memberikan dan merancang tata cara atau aturan “set of rules baru” mengenai mekanisme outsourcing untuk melindungi hak para pekerja IT.

Sumber bacaan menarik:

comments powered by Disqus